Headlines News :
Home » , » Menguak Sejarah Eyang " SUNAN LAWU "

Menguak Sejarah Eyang " SUNAN LAWU "

Senin, 14 Oktober 2013 : 19.17

Karanganyar (Chanelsatu) - Apabila anda melakukan perjalanan ke daerah Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah) pastinya anda akan mendengar nama fenomenal yang terletak di kawasan timur Kabupaten Karanganyar, menjadi pembatas Kabupaten Karanganyar dan Kabupaten Magetan (Jawa Timur) yaitu Gunung Lawu.

Gunung dengan tinggi sekitar 3170M tersebut memang fenomenal, selain diyakini masih menyimpan berjuta cerita mistery, gunung lawu juga diyakini mempunyai kaitan dengan sejarah Indonesia khususnya dimasa redupnya Kerajaan Majapahit dan munculnya kerajaan Demak Bintoro.

Keangkeran gunung Lawu memang tak terbantahkan, dari beberapa kejadian hilangnya pendaki secara misterius sampai dengan kesaksian beberapa pendaki yang konon melihat penampakan sesosok pria baya yang mengenakan surban dan pakaian serba putih yang bergelar Eyang Kanjeng " Sunan Lawu " seakan sudah menjadi rahasia umum.

Siapakah Eyang Kanjeng " Sunan Lawu " itu? inilah hikayatnya :

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaan Majapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.

Raden Fatah setelah dewasa beragama islam, berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan Kerajaan Demak dengan pusatnya di Glagah Wangi (Jepara).

Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, "Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semua mahluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ke timur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Sampai saat ini, masyarakat surakarta khususnya Solo dan Karanganyar masih mempercayai keberadaan Eyang Kanjeng " Sunan Lawu " tersebut, bahkan tidak jarang yang mengaku sering mendapat petunjuk dan ilham pengobatan bilamana ada keluarga atau sahabat yang sakit dari Eyang " Sunan Lawu ".

Kontributor : K.P.H.H.Danur Setionegoro.MM

Editor : Bunga Aulia
Share this post :

Poskan Komentar

 
Copyright © 2012. Chanelsatu.com - All Rights Reserved