Seputar Gejala Omicron dan Catatan Dokter Terkait Gejala Tersebut

  • Share

Penyebaran Covid-19 varian Omicron terus meluas di Indonesia, dengan jumlah kasusnya yang sudah mencapai ribuan. Oleh karena itu, semua pihak hendaknya mewaspadai hal tersebut dengan tetap melakukan vaksinasi secara lengkap dan tetap menerapkan prokes dalam kehidupan sehari-hari khususnya ketika di luar rumah dan berbaur dengan orang-orang.

Gejala Omicron

Berbeda dengan varian lainnya, Omicron dikenal sebagai varian yang mudah menyerang serta memiliki gejala ringan. Bahkan, pada sebagian kasus tidak memiliki gejala sama sekali.

Tapi belakangan ini para peneliti menemukan gejala baru yang ditimbulkan oleh varian Omicron. Gejala tersebut berupa sakit telinga dan sensasi kesemutan. Hal ini sebagaimana yang dilansir dari Times Now News, Senin (24/1/2022). Disebutkan kalau tim pakar di Universitas Stanford menemukan gejala tersebut pada pasien yang terinfeksi Omicron.

Lebih mengejutkan lagi, gejala sakit berupa telinga berdenging juga ditemukan pada pasien yang telah mendapatkan vaksinasi dalam dosis lengkap.

Selain telinga yang terasa berdenging, masih ada beberapa gejala lain yang menandakan kalau pasien terinfeksi virus Omicron. Gejala-gejala tersebut adalah :

  • Demam.
  • Mual/muntah.
  • Flu.
  • Sakit kepala.
  • Tenggorokan gatal.
  • Batuk
  • Badan pegal-pegal
  • Kelelahan.
  • Keringat malam hari.
Baca juga :  Nama-nama Daerah yang Sudah Melaporkan Keberadaan Varian Omicron

Oleh karena itu, dr Konstantina Stankovic yang merupakan salah satu anggota tim peneliti Universitas Stanford menganjurkan untuk segera melakukan tes apabila menemukan masalah yang berkaitan dengan suara dan pendengaran. Sebab, jika dibiarkan terlalu lama, bisa mengakibatkan gangguan pendengaran.

Benarkah Omicron Tidak Berbahaya?

Perkembangan kasus Omicron yang terus meningkat menimbulkan kepanikan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan agar masyarakat tidak panik akibat hal tersebut.

Menkes juga menyebutkan bahwa perkembangan kasus Omicron masih lebih rendah dibandingkan perkembangan kasus varian Delta beberapa bulan yang lalu.

Menkes menyebutkan dalam konferensi pers virtual terkait Hasil Rapat Terbatas ‘Evaluasi PPKM’ pada hari Senin (24/1/2022) bahwa telah terkonfirmasi sebanyak 1.600 yang terkena Omicron. 20 orang di antaranya membutuhkan bantuan oksigen dalam perawatan, sedangkan 2 orang meninggal dunia.

Menkes juga menyebutkan bahwa yang perlu kita lakukan terkait hal ini adalah tidak perlu panik namun harus senantiasa waspada dan hati-hati. Sebab, meskipun laju penularannya tinggi namun tingkat hospitalisasi dan kematiannya rendah.

Dalam kesempatan lainnya, Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memberikan himbauan serupa terkait masyarakat tidak perlu panik menghadapi kenaikan kasus COVID-19 akibat varian Omicron.

Baca juga :  12 Manfaat Buah Kiwi Untuk Kecantikan dan Kesehatan

Catatan Dokter Terkait Gejala Omicron yang Dianggap Ringan

dr Erlina Burhan selaku Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat PDPI mengingatkan dalam konferensi pers virtual bertajuk ‘Perkembangan Terkini kasus COVID-19 varian Omicron’ bahwa meskipun gejala Omicron tergolong ringan, namun berbagai data yang ada menunjukkan kalau gejala tersebut memerlukan perawatan seperti demam tinggi dan napas berat. Terutama ketika terjadi tiga kelompok yaitu lansia, orang dengan komorbid, serta anak-anak. Apalagi kalau sudah lansia juga ada komorbid., Senin (24/1).

dr Erlina juga menyinggung tentang dua pasien COVID-19 varian Omicron RI yang meninggal belum lama ini. Dia menyebutkan bahwa satu pasien pertama yang meninggal tersebut belum divaksinasi COVID-19, sedangkan pasien kedua sudah divaksin tapi komorbiditasnya tidak terkontrol.

Oleh karena itu, hendaknya masyarakat yang belum vaksin agar segera menyelesaikan vaksinasi Covid-19 , dan bagi yang memiliki komorbid atau lansia yang mengalami gejala Omicron seperti gejala nyeri tenggorokan sebaiknya segera memeriksakan dirinya.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.